“Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”, kulo njih semaur: “Isin (malu.)!” “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah (mencari berkah.)”. Kulo semaur maleh “Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya.” Tandas saya. Njenengan tingali,Kanjeng Sunan Ampel misale, sampun pirang ratus tiyang ingkang berdzikir di makam beliau saban dintene? Makam Kanjeng Sunan Kalijaga, pirang ratus tiyang ingkang menyebut Asmane Gusti Allah teng mriko saban wengine? Kanjeng Sunan Muria, pirang ewu tiyang ingkang nderes Quran dan maos shalawat teng mriko (Muria)? Kulo piyambak mawon taseh kangelan mengajak anak-anak bakda maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Pripun carane supoyo saget seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan kulo taseh urip. Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-ana...
Komentar